Strategic Leadership Training (SLT) 1.0 Bangkitkan Semangat Kepemimpinan Aktivis Nusantara

0
225

Strategic Leadership Training (SLT) 1.0 Bangkitkan Semangat Kepemimpinan Aktivis Nusantara

 

Bogor – Tantangan pada era disruptif menjadi isu yang sangat relevan terhadap tatanan perubahan yang harus dikelola secara integral bukan lagi parsial. Pada tingkat organisasi, perusahaan, ataupun pemerintah, tantangan perubahan dihadapkan pada dua dimensi yang saling berinteraksi antara manusia dan teknologi. Manusia yang melakukan proses transisi perubahan, sedangkan teknologi memengaruhi struktur yang berdampak terhadap perubahan desain pekerjaan, metode kerja, dan desain organisasi. Dengan pergantian teknologi yang sangat cepat, sebuah organisasi harus mampu menciptakan kegiatan berkelanjutan yang tertuang dalam struktur, prosedur, dan aspek manusia terintegrasi dalam sistem kerja yang sistematis.

 

Untuk mempersiapkan dan mewujudkan pemimpin yang mampu mengakomodasi isu terkait konteks perubahan dalam memenuhi kompetensi manajerial, pada Jumat (31-08) Beastudi Indonesia mengelar Leadership Sharing sebagai rangkaian acara Strategic Leadership Training (SLT) 1.0 yang diadakan di Teater Zikir Zona Madina, Bogor, Jawa Barat . Dihadiri 64 Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Angkatan VIII dari 18 kampus seluruh Indonesia, kegiatan bertajuk “Berpikir Strategis Bergerak Taktis” ini digadang-gadang mampu menumbuhkan semangat para aktivis untuk memajukan negeri ini melalui serentetan ide-ide hebat.

 

Kegiatan Leadership Sharing diisi oleh Purwoudiutomo, GM Beastudi Indonesia dan Agung Pardini, GM SMART Ekselensia Indonesia. Dalam sesi pertama Agung Pardini menyampaikan pentingnya milenials mengeksplorasi diri, menurutnya generasi milenials harus bisa memimpin dengan cara yang apik dan berdampak luas agar mampu mengimbangi pesatnya kemajuan teknologi dan persaingan di negeri ini. “Tantangan teman-teman saat ini lebih sulit, oleh karenanya teman-teman harus membangun banyak peluang dalam konteks pekerjaan yang akan digeluti nanti,” ujar Agung berapi-api.  Ia menambahkan jika perubahan zaman ini milenials harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, “Kalian adalah generasi mandiri, dunia berada di genggaman tangan kalian,” tutupnya.

 

Pada sesi kedua para aktivis diajak menyelami peran aktivis di era modern dengan tema “Mozaik Pengalaman Kepemimpinan di Lembaga Kemanusiaan”. Purwoudiutomo memaparkan bahwa peran para pemuda tidak berubah walau zaman telah berubah, “di tengah kemajuan zaman tantangan ke depan akan jauh berbeda, bahkan ketika teman-teman berkiprah di masyarakat nanti, namun kewajiban kita untuk memberikan kebermanfaatan sebesar-besarnya kepada orang lain jelas tak berubah,” jelas Purwo. Ia turut menuturkan jika milenials memiliki kemampuan spesifik yang unik dan khas, kemampuan tersebut harus diwadahi agar misi kebermanfaatan kepada masyarakat tak putus di tengah jalan. “Memahami perubahan perspektif kepemimpinan sesuai perubahan zaman dan tren masa depan itu penting, oleh karena itu memiliki kemampuan berpikir strategis, bergerak taktis, dan membangun aliansi strategis dengan lintas stakeholder dalam menyelesaikan isu-isu perubahahan & kemanusiaan menjadi salah satu kanal agar kalian menyadari pentingnya membela, melayani dan memperjuangkan masyarakat,” tutup Purwo. (AR)

 

 

 

 

Komentar via Facebook