Tapak Perjuangan Dokter Hewan

0
160

M Zulfitra Rahmat (Alumni BAKTI NUSA)

Tanpa terasa sudah 6 tahun di Bogor. Begitu banyak pelajaran yang didapat. Begitu banyak hal yang mengubah diri menjadi lebih baik. Begitu banyak duka daripada suka namun itu memberikan banyak hikmah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa kuliah di salah satu kampus terbaik, Institut Pertanian Bogor. Demi mengejar cita-cita menjadi seorang dokter hewan.

Bagi sebagian orang dokter hewan adalah pekerjaaan yang remeh. Sebagian yang lain menomorduakan dokter hewan setelah dokter manusia. Wajar, karena pengetahuan mereka hanya parsial. Di benak meraka dokter hewan adalah dokter yang berhubungan dengan hewan seperti kucing dan anjing. Kucing dan anjing  bagi sebagian orang adalah makluk yang remeh. Padahal manusia, kucing dan anjing adalah sama-sama makluk ciptaan Allah yang punya peranan masing-masing dalam ekosistem.

Sungguh keliru juga menyepelekan hewan-hewan yang ada karena mereka telah mewarnai peradaban manusia bahkan disebutkan dalam Al-Quran dan Hadist Nabi. Seperti seekor anjing yang ikut serta dalam persembunyian 7 pemuda Ashabul Kahfi. Ketujuh pemuda dan anjing ini masuk surga. Ada juga kisah seorang wanita bergelimang dosa yang  masuk surga karena memberikan minum seekor anjing yang kehausan.

Imam bukhari juga meriwatkan  seorang wanita masuk neraka karena seeokor kucing yang dia ikat dan tidak diberi makan bahkan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai. Ada juga kisah Abu Hurairah yang punya kucing betina yang suka bersembunyi di lengan jubahnya. Begitu besar perhatian Allah terhadap makluknya. Alangkah baiknya kita juga mencoba untuk tidak menganggap remeh hewan dan termasuk profesi yang berhubungan dengan hewan seperti dokter hewan.

Dokter hewan memilki banyak peran. Beberapa penyakit yang ada di manusia itu ditularkan dari hewan. Penyakit yang sering kita dengar adalah rabies dan antrax. Rabies biasa disebut penyakit anjing gila. Antrax sering terjadi pada sapi. Manusia yang memakan daging sapi atau menggunakan kulit dari sapi yang kena antrax akan ikut tertular antrax.  Antrax ini mematikan dan sering digunakan sebagai sebagai senjata bioloogis. Salah satu peran dokter hewan adalah memastikan dua penyakit mematikan ini tidak ditularkan pada manusia.

Hewan sendiri hidup berdampingan dengan manusia. Hewan diciptakan untuk manusia. Bahkan hewan sudah ada di muka bumi sebelum manusia. Hewan memberikan manfaat bagi manusia. Hewan dijadikan teman (hewan kesayangan), dimakan sebagai sumber protein hewani (hewan ternak atau produksi), dipakai tenaganya (kuda)  dan sebagai hewan coba (mencit dan kelinci). Kesemua hewan itu pada awalnya merupakan hewan liar. Hidup di habitatnya. Namun beberapa hewan mulai mendekati manusia. Menurut sejarah, serigala adalah hewan yang pertama mendekati manusia karena manusia suka memberikan daging. Lambat laun serigala menjadi jinak dan ikut berburu bersama manusia. Proses pendekatan ini disebut dengan domestikasi. Lambat laun serigala berkembang menjadi anjing yang kita kenal sekarang. Seiring berjalannya waktu satu persatu hewan liar terdomestikasi sehingga ada banyak hewan yang dekat dengan kehidupan manusia.

Seiring berjalannya waktu manusia mulai membuat berbagai produk hewan dan olahannya seperti daging produk olahannya sosis, kulit seperti kerupuk kulit, tulang seperti  dan susu seperti keju. Jika produk olahan itu berasal dari hewan yang terkena penyakit menular seperti antrax tentu bisa menularkan pada manusia yang menkonsumsinya. Ini mematikan. Disinilah salah satu peran dokter hewan, mencegah manusia menjadi tertular produk hewan dan olahannya. Tapi peranan itu tidak pernah dirasakan oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu paradigma tentang dokter hewan dan perannya harus terus diluruskan. Inilah yang coba penulis lakukan, memberikan pencerdasan pada orang-orang yang yang belum tau banyak tentang dokter hewan.

Selain masalah paradigma, tentu ada masalah realita. Masalah kesehatan hewan pasti berhubungan dengan masalah uang atau modal. Kesehatan hewan tergantung dari tergantung dari kesehatan keuangan pemilkinya. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, kesehatan hewan termasuk dalam kesejahteraan yang dikenal animal walfare atau kesejahteraan hewan. Kesejahteraan hewan berbanding lurus dengan kesejahteraan pemiliknya. Bahkan dalam skala yang lebih besar, kesejahteraan hewan suatu negara berbanding lurus dengan kesejahteraan negara itu. Umumnya hewan di negara maju lebih sejahtera dibanding negara berkembang.

Sehat diartikan sebagai tidak sakit. Untuk tetap sehat tentu butuh pakan yang sehat pula.  Untuk sehat sembuh dari sakit tentu butuh obat dan orang yang mengerti akan obat  dalam hal ini dokter hewan.  Untuk membeli obat butuh uang. Untuk mendatangkan dokter hewan yang akan mengobati tentu juga butuh uang. Soal uang tidak menjadi masalah bagi masyarakat menengah atas. Orang-orang perkotaan yang punya kucing dan anjing atau hewan kesayangan lainnya tentu sudah punya budged untuk pengobatan hewan kesayangannya. Tak hanya sekedar mengobati, mereka bahkan punya budged untuk perawatan agar hewanya terus sehat. Bagi mereka hewan yang mereka pelihara sudah menjadi teman, sahabat bahkan dianggap bagian dari keluarga sendiri.

Begitu juga dengan peternak sapi pedaging, sapi perah, ayam pedaging atau ayam petelur yang tentu punya modal besar dan pastinya diangarkan untuk kesehatan ternaknya. Karena hewan yang sakit akan menurunkan produksi. Pendekatan yang mereka lakukan adalah pendekatan ekonomi. Tidak masalah mengeluarkan sedikit uang untuk mencegah kerugian besar. Masalah uang tidak menjadi soalan bagi dua kelompok ini. Bentuk perjuangan yang bisa dilakukan terhadap kelompok ini adalah memberikan penjelasan yang lebih detail agar mereka semakin peduli terhadapa kesejahteraan hewan. Informasi yang detail tentu akan memberikan ketertarikan. Selain itu, pelayanan yang profesional wajib dilakukan karena mereka menuntut hasil terbaik karena mereka sudah memeposisikan harga tak jadi soalan. Inilah yang sedang penulis sedang tapaki. Belajar sedikit demi sedikit dari proses pembalajaran menjadi seorang dokter hewan.

Lalu di sisi yang lain, ada kelompok masyarakat yang punya hewan kesayangan atau hewan ternak tapi mereka tidak punya budged untuk kesehatan hewannya. Menjadi dilema karena untuk kesehatan diri mereka sendiri terkadang tidak terpenuhi, sehingga kesehatan hewan yang mereka miliki menjadi terbaikan.  Kita bisa lihat bagaimana anjing dan kucing yang tidak terawat berkeliaran. Ada juga anjing  dan kucing yang tidak bertuan yang terus bertambah jumlahnya. Tanpa pemilik dan hanya segelintir yang peduli. Anjing dan kucing itu bisa memiliki penyakit  yang bisa ditularkan pada hewan sehat lainnya. Begitu juga dengan ternak yang tidak sehat, kita bisa lihat ternak itu kurus, berpenyakit dan akhirnya mati. Tentunya ini juga bisa menular pada hewan sehat, bahkan bisa juga menular pada manusia. Jika hewan tersebut adalah hewan produksi, bisa jadi produk nya berkualitas buruk (peternaknya rugi karena harga jual tidak sesuai dengan modal, tenaga dan waktu yang dibutuhkan selama produksi) bahkan bisa terkontaminasi bibit penyakit. Konsumen tentu saja akan dirugikan. Rantai masalah ini berasalal dari hal yang sering terabaikan, yaiut kesehatan hewan. Untuk sehat itu mahal, begitu juga pada hewan.

Berangkat dari realita  itu penulis bercita-cita untuk membuat pabrik pakan hewan murah sehingga bisa dibeli oleh masyarakat kalangan menengah kebawah yang punya hewan kesayangan atau ternak. Selain itu penulis juga berkeinganan untuk membuat yayasan/organisasi/LSM yang menjadi rumah bagi anjing dan kucing yang tidak bertuan. Untuk mengatasi masalah obat hewan yang mahal penulis ingin membuat buku cara membuat obat hewan dari tumbuhan lokal atau bahan yang mudah didapat.

Jika orang lain berjuang untuk manusia, penulis akan berjuang untuk hewan. Berjuang  untuk hewan pada hakekatya adalah berjuang untuk manusia karena hewan dan manusia akan selalu hidup berdampingan.

*Diambil dari Buku “Istiqomah Merawat Indonesia”

Gambar : Google

Komentar via Facebook
BAGIKAN