Tengok Pentingnya Social Project Untuk Aktivis Di Sini!

0
124

Tengok Pentingnya Social Project Untuk Aktivis Di Sini!

Bogor – Aktivis telah diproduk untuk menjadi agent of change, kontrol sosial, dan moral of force untuk membangun tatanan moralitas dilihat dari peran sosialnya. Aktivis dituntut mampu bersinergi dengan masyarakat melalui perjuangan sosial kemasyarakatan.

Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan yang berkhidmad pada pengembangan SDM khususnya pemuda memiliki ragam kegiatan kepemudaan berupa Social Project. Social project tersebut diangkat dari isu kemanusiaan dan direalisasikan ke dalam kegiatan kolaborasi,

“Dompet Dhuafa membagi kegiatan social project ke dalam tiga pendekatan program. Pertama services, di mana format programnya berupa layanan; Kedua development dengan membuat program menciptakan SDM strategis dan fokasional sebagai upaya dalam melihat serta merespon dinamika umat lebih kompleks karena jangka waktunya panjang; Ketiga empowerment (pemberdayaan), pendekatan ketiga lebih kompleks karena ada faktor di luar yang mempengaruhi keberhasilan program; dan Keempat advokasi,” kata Udhi Tri Kurniawan, GM Ekonomi Dompet Dhuafa Filantropi, dihadapan 75 aktivis penerima manfaat BAKTI NUSA dari 22 kampus ternama di Indonesia.

Membicarakan keterlibatan di masyarakat berarti aktivis harus memiliki value yang diusung agar tidak kehilangan ruhnya. Data dan impact driven juga penting dan aktivis harus perhatikan agar publik percaya dengan social project yang diusung.

“Ketika membuat social project ada lima prinsip yang kudu aktivis perhatikan antara lain Partisipatf, Sustain, Fasilitatif, Mendorong Kemandirian, Data & Impact Driven. Insting kalian juga harus lebih peka dalam dinamika eksternal di luar data-data. Penting diingat kalau kita harus selalu berpatokan pada data dan impact bukan hanya output,” tegasnya.

Udhi menuturkan jika output yang harus diperhatikan aktivis ketika membuat social project haruslah berkesinambungan dan dampaknya terasa bahkan setelah social project selesai. Agar tak tersandung dengan social project yang dibuat aktivis harus menghindari hal berikut: Top Down: Gagasan awal dari fasilitator harus diimbangi dengan upaya akomodatif terhadap ide kelompok sasaran; Dominasi Peran: Perlu pembagian peran terhadap seluruh stakeholder terkait; Asumsi: Asumsi tanpa didasari data yang valid akan menyebabkan pengambilan kesimpulan yang salah; Single Fighter: Perluas jaringan yang relevan jangan main sendiri.

“Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terlihat dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungan. Itulah fungsi daripada pendidikan yang sesungguhnya,” tutup Udhi. (AR)

Komentar via Facebook
BAGIKAN