Zakat Mengantarkan Nisak Menjadi Wisudawan Terbaik UNAIR

0
325

Khoirun Nisak,S.E.,M.SEI. baru saja menyelesaikan program master Ekonomi Islamnya dari Universitas Airlangga (UNAIR) Suabaya. Ia berhasil mendapatkan prestasi Wisudawan Terbaik. Nisak dulu adalah penerima manfaat Beastudi Etos. Dana zakat yang ia terima sebagai beasiswa tersebut kini mampu mengantar Nisak meraih mimpi terbaiknya.

Nisak menjadi Etoser (sebutan untuk penerima Beastudi Etos) angkatan 2010 di Universitas Brawijaya Malang. Saat itu ia mengambil studi Imu Ekonomi dan lulus tahun 2014. Karena ingin meraih impiannya menjadi akademisi, Nisak melanjutkan Strata Duanya ke UNAIR. Nisak kembali mendapatkan Beasiswa Kepemimpinan dari Dompet Dhuafa saat menjalankan program masternya ini.

Tak ingin menjadi kacang lupa kulitnya, Nisak mendaftarkan dirinya saat dibuka rekrutmen untuk Pendamping Asrama Etos Surabaya. Sambil menjalankan studinya, Nisak pun memberikan pembinaan dan pendampingan kepada adik-adik akhwat Etoser UNAIR.

Dara kelahiran Trenggalek, 22 Agustus 1992 ini juga dikenal aktif berorganisasi. Selama kuliah S2 Nisak aktif di komunitas pemikiran Islam. Bersama tiga orang temannya dari ITS, Nisak menjadi inisiator berdirinya #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) Chapter Surabaya.

ITJ sendiri sudah berdiri di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, tapi belum ada di Surabaya. Akhirnya Nisak dan teman-temannya babat alas membuka chapter baru ITJ di Kota Pahlawan itu. “Alhamdulillah sampai sekarang komunitasnya sudah lebih banyak anggotanya dibanding awal berdirinya dulu yang cuma empat orang.” Kata Nisak dengan nada bangga.

Meski sibuk beraktifitas diluar kampus, namun Nisak tak melupakan cita-citanya untuk menjadi dosen. Sebagai ajang meperdalam keahliannya, di kampus Nisak menjadi asisten peneliti beberapa riset dosen senior. Ia pun mengaku sudah mendapat tawaran menjadi dosen di salah satu institut di Pasuruan, Jawa Timur.

“Saya tinggal menyelesaikan akad menjadi Pendamping Etos sampai Desember ini. Setalah ini saya mau mengajar, Mbak. Kemarin saya ditawari jadi Dosen Ekonomi Islam di Institut Darul Lughah Wa Dakwan di Pasuruan. Beberapa minggu ini sedang dalam proses menuju ke sana, doakan ya,Mbak!” cerita Nisak saat dihubungi lewat aplikasi percakapan di telepon pintarnya.

Nisak juga mengakui bahwa menjadi akademisi adalah cita-citanya dari dulu. Ia ingin merasa bangga karena menjadi seseorang yang dirujuk pertama kali tentang masalah dalam satu disiplin ilmu. “Misalnya ketika ada masalah tentang ekonomi publik Islam, maka otomatis orang akan ingat saya dan menunggu jawaban saya, bukan orang lain,”kata Nisak mantap.

Di samping itu, Nisak juga menyimpan harapan untuk para mahasiswa kelak. “Saya ingin mahasiswa yang belajar itu ya benar-benar mencari ilmu dengan cara yang baik, menjaga adab sebagai penuntut ilmu dan menjaga integritas,”ungkap Nisak.

Ketekunan dan kerja keras menjadi kunci Nisak mewujudkan cita-citanya. Hal ini adalah perwujudan dari motto hidup yang ia nukil dari salah satu bait diwan Imam Syafi’i, “Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang”.

Nisak adalah salah satu anak bangsa ini yang beruntung mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Ia dan 2.305 teman-teman Etoser lainnya mengalami nasib yang sama. Prestasi akademisi mereka yang brilian harus menyerah pada keterbatasan finansial. Dana zakatlah yang menjadi penyambung jalan bagi para Etoser ini meraih citanya. Dari zakat yang diamanahkan para muzakki kepada Dompet Dhuafa, program Beastudi Etos dapat lahir untuk membantu Nisak dan teman-temannya melanjutkan studinya ke 20 perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Bahkan, tidak hanya mendapatkan biaya pendidikan saja, mereka juga mendapatkan pembinaan sebagai pengokoh diri untuk meraih mimpi setalah lulus nanti.

Barakallah Nisak, selamat atas prestasi yang diperoleh. Semoga kelak Nisak berhasil menjadi dosen terbaik yang turut membangun peradaban terbaik bagi bangsa dan umat ini. Aamiin.

Komentar via Facebook